Cerita KaLAM! – Cinta Tak Mesti di Awal Waktu

Cinta Tak Mesti di Awal Waktu

 

Kata mereka, cinta adalah awal sebelum memulai segalanya. Tapi nyatanya, perkataan mereka tidak benar seutuhnya.

 

 

Aku saat itu hanyalah seorang gadis kecil yang datang dengan penuh harap, penuh mimpi, dan penuh keyakinan terhadap diri sendiri. Aku yang seringkali merasa lelah dan tidak nyaman ketika berada di keramaian. “Udah nekat aja. Jalan sendirian gapapa” kata-kata itu modal awalku saat ppsmb dan semester pertama di bangku perguruan tinggi.

 

Aku sangat susah mempercayai orang lain, dalam bentuk apapun. Apalagi berbagi kisah pribadi, aku nyaris tidak pernah melakukannya. Perasaan seperti itu memang agak menyesakkan- tapi juga menenangkan pada saat yang bersamaan.

 

Dan karena itulah, aku mencoba untuk mendaftar lembaga dakwah fakultas ini dengan alasan lain untuk mencari lingkungan yang baik dan akan mampu mengingatkanku ketika lemah. Dan sama, pada saat mendaftarpun perasaan percaya dan cinta belum juga tumbuh.

 

Begitu terus. Aku masih belum jatuh cinta sampai berbulan-bulan aku terdaftar sebagai staff di KaLAM. Mendatangi acara, rapat, maupun kajian tanpa hati dan pikiran yang sepenuhnya hadir. Pikiranku saat itu hanya sebatas yang penting menunaikan kewajiban.

 

Hingga suatu saat, aku menjadi panitia RIMFA yang lagi-lagi dengan modal nekat dilakuin dulu aja entah nanti bisa atau enggak. Sebuah kepanitiaan yang sangat sangat membuat lelah. Kepanitiaan yang sangat mengajarkanku untuk belajar menguatkan hati, memurnikan niat, dan terus percaya kepada Allah. Dan dari situlah, mulai tumbuh rasa cinta, sayang, dan percaya. Sangat perlahan dan akhirnya semakin kuat dan semakin kokoh.

 

 

KaLAM memang nggak sempurna.

 

Tapi di sini, aku belajar banyak hal. Aku yang dulu sangat susah percaya dengan orang lain, sekarang mungkin masih sama saja. Tapi bedanya, di sini aku diajarkan bahwa sebaik-baik kepercayaan adalah percaya kepada Allah. Dalam setiap masalah, susah, dan bahagiaku.

Di sini, aku bisa menjadi diriku sendiri. Bukan hanya itu, aku bisa menjadi versi terbaik dari diriku. KaLAM memberiku tempat yang lapang, tenang, dan tidak sesak agar aku bisa berkembang tanpa memaksakan diri dengan tuntutan yang berat.

Di sini, aku dipertemukan dengan manusia yang begitu tulus untuk membantu dan mengayomi. bukan sebuah keramahan yang bersifat transaksional karena kepentingan tertentu. Mereka adalah manusia yang selalu menebar salam kebaikan dengan tulus, yang masyaAllah, kapan lagi bisa ketemu orang-orang kaya gini :””

Di sini, aku bisa duduk melingkar bersama mereka, berdiskusi tentang masa depan dan banyak hal, tanpa melupakan sudut pandang yang sudah seharusnya menjadi dasar kita dalam berpikir dan bertindak, Al-Quran dan Hadits.

Dan di sini pula, aku belajar bahwa cinta itu bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Tapi cinta akan tumbuh perlahan, beriringan dengan proses mengenal, memahami, dan saling merasakan. dengan satu syarat, selama cinta itu insyaAllah masih di jalan-Nya.

Karena bagiku, ketidaksempurnaan itulah yang membuat ukhuwah dan rasa cintaku berada di sini terus tumbuh.

 

Uhibbukum fillah.

 

 

 

Yogyakarta, 01 Oktober 2017

oleh seseorang yang suka baca meme wkwk.

 

 

KaLAM FK UGM 1438 H

|Sahabat dalam Kebaikan|

 

📬Email: kalam.ugm@gmail.com

👥FP: facebook.com/kalamfkugm

📱Line: @pcg1356f

🔔Twitter: @kalamfkugm

🗼Instagram : @kalamfkugm

📺YouTube: KaLAM FK UGM

🌍Website: kalam.fk.ugm.ac.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *