SENJA/PAGI? SUNSET/SUNRISE?

[Catatan perjalanan, sebuah Tulisan Refleksi]

Dalam safar beberapa hari yg lalu, saya yang keenakan dibonceng oleh Ibu tercinta malah jd maruk minta yang aneh-aneh “Ibuuu, nanti kalo kanan atau kiri jalan ada spot yang enak buat moto sunset Ibu pelanin motornya ya? Kepengen moto,”

Ibu pun menurut.. Sayang :’)

Dan ada sebuah foto kala matahari terbenam itu yang hmm not bad lah, hehe. Alhamdulillah tertransferkan kembali satu hikmah ke diri ini bahwa emang, eyes are the best camera ya. Foto tersebut belum ada apa-apanya ketimbang pemandangan yang saya lihat direct! Langsung! Waktu melewati jembatan kala itu. Hebatnya lagi, dari mata turun ke hati. Dari nikmat visual yang Allah beri, kemudian hati ini bersinergi mencoba mencari dan mengulik-ulik “pesan implisit”. Rasanya hangat dan indah. Puji syukur kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam.

Emang dari sononya mellow, atau sisi feminim saya yang memang kadang, jauh, lebih dominan. Waktu ketika matahari terbit, maupun kala ia hampir terbenam, bagi saya adalah waktu bumi bagian paling indah. Saya bisa duduk bermenit-menit, tanpa melakukan apapun, tanpa memikirkan apapun atau justru kadang bertafakkur, tapi yang jelas selalu merasa iya (haha dasar melankolis kamu teh!), sambil menunggu momen itu berlalu. Just for tasting the sunshine. Bahkan sampai, kedua entitas itu (sunrise&sunset) jadi bahan pertimbangan saya ketika memilih bangku bus/kendaraan safar lain; yang mana saya bisa melihat mereka lebih jelas maka itu yang saya pilih. Iya, sampai segitunya.

Safar waktu itu, sambil membonceng mesra bersama Ibunda muncul sesuatu di benak. Terbesit tiba-tiba. Ya itu tuh, judul tulisan ini.

Sunset?
atau, Sunrise?

Awalnya males untuk mikirin. Alah, buat apa. Tapi kok kayaknya bau-baunya saya bakalan punya jawaban. So, here it is. Bagi saya, sunrise dan sunset adalah dua fenomena alam yang Allah berikan untuk kemudian muslim coba telaah, pahami, dan resapi tanda-tanda kebesaran-Nya lewat ciptaan-Nya yang Indah. Pergiliran waktu, dan lain sebagainya.

“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surah Luqman : 29)

Indah.

Bagi saya, matahari terbit itu lebih kepada sesuatu yang mentrigger kita untuk “grow the hopes up” ; menumbuhkan harapan. Si matahari bercerita kepada kita bahwa ada sehari lagi, lho. InsyaAllah, ada sehari lagi kita diberikan kesempatan oleh Allah ‘tuk mengerjakan semua hal yang kudu dikerjakan diatas bumi ini. Semata-mata untuk nyiapin “bekal” aja, nggak perlu lah “improvisasi” yang macam-macam hehe. Matahari terbit, dibersamai waktu pagi yang serasa memperlambat segalanya…seakan berbisik ; apa yang akan kau lakukan hari ini? Apa yang ingin kau capai? Apa yang ingin kau kejar?
Matahari terbit yang secara penampakkan terlihat lebih merah, lebih bulat, dengan langitnya yang biasanya clear putih. Bersih. Seakan dengan lembut menyapa, “semoga Allah senantiasa meridhoi’ yang engkau kerjakan hari ini.” rasa-rasanya begitu. Saya ngerasa-nya begitu. Karena matahari juga senantiasa bertasbih kepada-Nya maka bukan sebuah kemustahilan bahwa Ia turut mendoakan orang-orang yang berkebaikan, di jalan-Nya.

Sedangkan matahari terbenam, atau istilah beken-nya; sunset. Adalah sebuah entitas untuk muhasabah. Entah kenapa saya ngerasa-nya sunset itu lebih melankolis, lebih sendu, lebih bikin baper, lebih menggelitik, dan lebih-lebih lainnya. Saya sering menemui langit kala sore hari juga lebih mendukung nuansa romantis itu. Persebaran semburat jingganya lebih meluas, gradiasi oranye-peach-putih-kelabu-biru nampak tak beraturan. Just like a beautiful mess. Lalu, kita sadar. Atmosfir langit yang sebegitu cantiknya tak bertahan lama, malam akan segera menjelang. Allah akan pergilirkan bulan dan sejenak merehatkan si matahari. Semoga, sejenak. Ya, suasana yang seperti itu. Suasana yang seperti itu yang menggelitik hati kita ‘tuk kembali merunut apa yang telah kita kerjakan selama sehari penuh. Dari mulai membuka mata, hingga waktu petang itu. Nikmat nafas, nikmat air, nikmat makan, nikmat bertemu dengan manusia, nikmat ilmu, nikmat tawa, nikmat resah, nikmat sedekah murah versi senyum, dan nikmat-nikmat lainnya apakah telah tersadari betul bahwa hanya karena Allah-lah kita semua bisa mengalami itu? Bahwa setiap stimuli yang masuk ke organ mata, telinga, benak, hati, apakah sudah mengundang ridha’-Nya? Bahwa apakah benar kita percaya, jujur ke diri sendiri, dan meyakini betul bahwa “Dia adalah dekat, lebih dekat dari nadi kita sendiri.”?
Seakan matahari sore hari iba, dan berbisik “beristighfarlah, beristighfarlah wahai engkau. Semoga Allah SWT mengampunimu,”

Ah.
Ya Allah. Sungguh betapa Engkau telah mencipta segala sesuatu dengan tujuan. Presisi. Ada yang selalu kau coba sampaikan kepada kami, kami yang ada di belahan bumi manapun. Maafkanlah kami, yang memang lengah, yang memang bodoh, yang memang naif terkadang tak cukup sampai pemahaman kami untuk mencoba mencapai frekuensi yang kau suka. Maafkan kami.

Maka izinkanlah kami, di waktu pagi dan petang kami, ‘tuk lantunkan do’a bagi penyejuk hati kami dan ikhtiar ‘tuk capai keridha’an-Mu;

“Kami memulai pagi/sore hari dalam fitrah Islam, diatas kalimat ikhlas, dan diatas diin Nabi kita Muhammad SAW, diatas millah ibrahim, dalam kondisi lurus kepada kebenaran, jauh dari kebatilan, menyerahkan diri kepada Allah, dan bukan termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah,”

“Ya Allah, sesungguhnya aku memulai pagi/sore hari dari-Mu dalam kenikmatan, ‘afiyah (terbebas dari bencana) dan tertutupi aib maka sempurnakanlah atasku atas nikmat-Mu, ‘afiyah-Mu, dan menutupi aibku dunia akhirat,”

“Ya Allah, sesungguhnya apa saja yang bersamaku di pagi/sore hari ini dari suatu kenikmatan atau bersama seorang di antara ciptaan-Mu, itu dari-Mu sendiri, tidak ada sekutu bagi-Mu, milik-Mu lah segala pujian, dan untuk-Mu segala syukur.”

(Do’a dikutip dari dzikir al-Matsurat)

Duhai Rabbi,
Maka jika aku harus memilih akankah lebih kusukai matahari kala terbenam dari yang terbit ataupun sebaliknya? Jawaban-ku adalah; tendensi suka-ku kepada salah satunya sungguh, insyaAllah, sungguh tak berarti daripada tendensi rasa kebersyukuranku kepada pencipta mereka. Itu saja.

Barangkali, karena suka ini berasal dari hati/qalb. Dan qalb sifatnya berbolak-balik, labil. Bisa jadi hari ini aku menyukai sunset, tapi mungkin esok ketika musim penghujan dan setiap sore basah atas izin-Mu, hatiku berpaling ‘tuk menyenangi pagi dan matahari-nya.

Alhamdulillahi rabbi. Alhamdulillah.
Terimakasih telah mencipta mereka dan mengizinkan hambamu yang bukan sesiapa ini ‘tuk mengais reremahan makna atasnya.

wallahu’alam.
#catatanrefleksi
#muhasabah
———

KaLAM FK UGM 1438 H
|Sahabat dalam Kebaikan|

📬Email: kalam.ugm@gmail.com
👥FB: facebook.com/kalamfkugm
📱Line: @pcg1356f
🔔Twitter: @kalamfkugm
🗼Instagram : @kalamfkugm
📺YouTube: KaLAM FK UGM
🌍Website: kalam.fk.ugm.ac.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *