[ Kontaminasi Pujian ]

Memuji dan dipuji bukanlah hal yang asing di telinga. Kebanyakan menganggap bahwa pujian merupakan hal yang baik secara psikologis maupun dalam hubungan sosial-kemasyarakatan. Namun Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin berkata lain. Beliau menganggap bahwa, “Pujian merupakan salah satu hal yang harus diwaspadai dan masuk dalam kategori salah satu virus/penyakit lisan”.

❌ Pujian dapat menimbulkan kesombongan dan berbangga diri ❌

Al-Hasan al-Bashri mengisahkan, suatu ketika ‘Umar bin Khattab sedang duduk bersama orang-orang dengan sebuah cambuk yang berada di sampingnya. Tiba-tiba datang al-Jarud bin al-Mundzir, lalu seseorang memujinya, “Ini adalah tuannya kampung Rabiah”. Pujian tersebut terdengar oleh Umar dan orang-orang di sekelilingnya termasuk al-Jarud bin al-Mundzir.

Ketika al-Jarud berada di dekat ‘Umar bin Khathab, ia dipukul dengan cambuk. Dia pun memprotes, “Apa urusanku denganmu, wahai Amirul Mu’minin ?”. Umar menjawab, “Apa urusanku…(sambil mengejek). Tidakkah kamu mendengar pujian itu ?”. “Ya, aku mendengarnya”. Kemudian beliau berkata lagi, “Aku khawatir hatimu tercampuri suatu hal negatif atas pujian tadi, maka aku berusaha menundukkan hatimu.”

Dari peristiwa tersebut dapat diambil hikmah bahwa pujian yang diterima  sangat rawan terkontaminasi dengan hal lain, seperti kesombongan dan berbangga diri. Kedua hal itu mampu mengikis amal kita.

Oleh karenanya, sahabat yang mulia Abu Bakr Ash Shiddiq berdo’a pada Allah agar dirinya lebih baik dari pujian tersebut apabila ia dipuji. Ia pun meminta pada Allah agar tidak disiksa karena sebab pujian tersebut. Adapun doa beliau :

اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ

[Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka] ( Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4: 228, no.4876. Lihat Jaami’ul Ahadits, Jalaluddin As Suyuthi, 25: 145, Asy Syamilah)

———————————————-
Allah lebih tahu isi hati kita, juga diri kita lebih tahu lemahnya diri kita dibanding orang lain. Ibny Qayyim dalam Al Fawaid mengatakan, “Tidak mungkin dalam hati seseorang menyatu antara ikhlas dan mengharap pujian serta tamak pada sanjungan manusia kecuali bagaikan air dan api.”

Referensi :

□ Lembar Jum’at Al-Rasikh, tulisan Husaini Anwar F (mahasiswa UII)
□ https://rumaysho.com/3207-doa-ketika-dipuji-orang-lain.html

———

KaLAM FK UGM 1438 H
|Sahabat dalam Kebaikan|

📬Email: kalam.ugm@gmail.com
👥FP: facebook.com/kalamfkugm
📱Line: @pcg1356f
🔔Twitter: @kalamfkugm
🗼Instagram : @kalamfkugm
📺YouTube: KaLAM FK UGM
🌍Website: kalam.fk.ugm.ac.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *