[Merindukan Sosok Pahlawan, Merindukan Pemimpin Sejati]

Keberadaannya sekarang entah dimana. Pahlawan sedang dicari. Mungkinkah kitalah pahlawan yang sedang dicari dan dinanti-nanti. Jadilah pahlawan, yang banyak manfaatnya. Merajut kebaikan, menebar manfaat.

Pahlawan. Apa yang pertama kali terlintas saat membaca, mendengar kata itu. Pahlawan. Apa artinya pahlawan? Siapa pahlawan sebenarnya?. Katanya pahlawan dirindukan sosoknya, dirindukan kehadirannya. Katanya dunia ini membutuhkan pahlawan. Pahlawan yang merubah keadaan. Memangnya sepenting apakah pahlawan?

Di Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani.

Mari kita perhatikan berbagai sosok yang dianggap pahlawan di dunia ini, belajar dari sejarah hdup mereka.

Nabi Muhammad SAW
Rasululullah menempati peringkat pertama dalam buku The 100 karya Michael H. Hart yang notabene adalah keturunan Yahudi. Mengapa? Apa alasannya?

Nabi Muhammad : Penyebar agama Islam, penguasa Arabia, mempunyai karir politik dan keagamaan yang luar biasa, namun tetap seimbang dan serasi, mengakibatkan Nabi Muhammad memiliki banyak pengikut, dan juga menjadi panutan seluruh masyarakat dunia hingga saat ini. Hart menilai Nabi Muhammad sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Menurut Hart, Nabi Muhammad adalah satu-satunya orang yang berhasil meraih keberhasilan luar biasa baik dalam hal spiritual maupun kemasyarakatan. Hart mencatat bahwa Nabi Muhammad mampu mengelola bangsa yang awalnya egoistis, barbar, terbelakang, dan terpecah-belah oleh sentimen kesukuan menjadi bangsa yang maju dalam bidang ekonomi, kebudayaan, dan kemiliteran bahkan sanggup mengalahkan pasukan Romawi yang saat itu merupakan kekuatan militer terdepan di dunia.
Rasulullah telah benar-benar memberikan perubahan besar pada bangsa Arab. Bangsa Arab yang penuh kejahiliyahan dapat diubah Rasulullah menjadi penguasa dunia. Yang merasakan keberkahan yang dibawa Nabi Muhammad bukan hanya bangsa Arab, tetapi hampir seluruh bagian bumi.

Pahlawan muncul di berbagai bidang. Ada pahlawan dalam bidang agama, yang sangat ahli tentang agama. Ada juga para penemu seperti Ibnu Sina, Isaac Newton, mereka juga para
pahlawan di bidang-bidang sains.

Dalam suatu hadits disebutkan: “Sesungguhnya ALLAH akan mengutus pada umat ini (umat Rasulullah) setiap awal 100 tahun seorang mujaddid yang membaharui urusan agamanya.“ (hadits diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunannya hadits no 4921)

Jadi memang selalu ada pahlawan menyejarah yang muncul, pahlawan-pahlawan adalah mujaddid, pembaharu, reformer. Mereka dapat menyesuaikan cara berdakwah sesuai zaman, tetapi tetap bisa ber-salimul aqidah.

Hmm. Lalu siapakah pahlawan zaman ini, Akankah kita menjadi pahlawan?

Pahlawan justru muncul di tengah keterbatasan, dari hal-hal yag tidak pasti, Menjadi pahlawan dapat dimulai dengan Ibadah yang benar. Kita baiknya banyak-banyak menggali inspirasi dari Al-Quranul Karim, amalkan, dan ajak orang-orang yang kausayangi, orang-orang di sekitarmu untuk ikut dalam rantai kebaikan.

Pahlawan juga melaksanakan tugas dan amanahnya dengan baik. Pahlawan akan gelisah apabila dirinya mencari-cari alasan apabila tugas tak dilaksanakan dan amanah diabaikan. Pahlawan pun punya cita-cita yang jelas dan luas manfaatnya.

Kebiasaan para pahlawan adalah berpikir lebih cepat daripada orang biasa bekerja sebelum orang lain bekerja, beraktifitas lebih lama daripada orang biasa, mengurangi jam-jam santainya, menyedikitkan waktu tidurnya, memberdayakan semuanya (zero to hero)

Oh iya. Ingat-ingat ini ya. “Menjadi penting itu baik tapi menjadi baik itu lebih penting”. Para pahlawan tidak berfikir bagaimana dia ingin dikenal orang, bukan itu orientasinya. Kalau pun nama pahlawan menyejarah, bukan mereka yang ingin. Orientasi para pahlawan adalah menshalihkan pribadinya agar dapat luas manfaatnya. Bagaimana para pahlawan menggapai keshalihan. Ada empat pilar dalam menggapai keshalihan yaitu shalih dalam aqidah, shalih dalam ibadah,shalih dalam akhlak, shalih dalam keluarga (Solikhin Abu Izzudin-Zero to Hero).

Semoga kisah kita menjadi kisah kepahlawanan. Merajut kebaikan. Menebar manfaat. Kisah yang berakhir bahagia, dengan khusnul khatimah dan surga.

Umar bin Abdul Aziz berkata, “Sungguh saya memiliki jiwa perindu. Jiwa merindukan kepemimpinan maka saya mendapatkannya. Merindukan khilafah maka saya meraihnya. Dan sekarang jiwa itu merindukan surga.

Pahlawan yang sebenar-benarnya, meraih Ridha-Nya, dan meraih Surga-Nya.

———-

KaLAM FK UGM 1438 H
|Sahabat dalam Kebaikan|

📬Email: kalam.ugm@gmail.com
👥FP: facebook.com/kalamfkugm
📱Line: @pcg1356f
🔔Twitter: @kalamfkugm
🗼Instagram : @kalamfkugm
📺YouTube: KaLAM FK UGM
🌍Website: kalam.fk.ugm.ac.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *