Bersyukur dengan yang Sedikit

line_1474441549490

Manusia seringkali tidak pernah puas terhadap apa yang diberikan kepadanya. Padahal setiap saat kita mendapatkan nikmat yang sangat banyak dari Allah, namun seringkali diri ini terus merasa kurang, merasa Allah hanya memberi sedikit nikmat kepada kita.

 

Allah memberi kesehatan yang jika dibayar amatlah mahal. Allah memberi umur panjang, yang kalau dibeli dengan seluruh harta kita pun tak akan sanggup membayarnya. Namun demikianlah diri ini hanya menganggap harta saja sebagai nikmat, harta saja yang dianggap sebagai rizki. Padahal kesehatan, umur panjang, lebih dari itu adalah keimanan, keislaman dan ketaatan adalah nikmat dari Allah yang luar biasa.Maka sebagai penerima sudah sepantasnya kita berterima kasih kepada sang Maha Pemberi, yakni dengan bersyukur kepeda-Nya.

 

Banyak sekali nikmat yang sering kita lupakan, bahkan bisa jadi nikmat yang tidak kita sadari jauh lebih banyak dari nikmat yang kita sadari. Memang, rumah yang mewah, motor yang bagus, dan berbagai materi keduniaan lainnya yang terlihat merupakan nikmat Allah. Namun seringkali kita lupa bahwa nikmat bukan hanya sesuatu yang terlihat namun juga sesuatu yang kita rasakan.

 

Ada dua nikmat yang seringkali dilalaikan oleh manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

 

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

 

Mengapa begitu? Karena pada kenyataannya banyak sekali orang yang lupa akan Allah dan semakin jauh dari taat pada-Nya di waktu sehat dan waktu senggang, dan kemudian baru ingat akan Allah saat sakit dan susah.

 

Pernahkah kita membayangkan apabila kita tidak memiliki kelopak mata? Mungkin kelopak mata bukan organ yang penting, namun bila kita tidak memilikinya, maka kita tidak akan bisa mengedipkan mata, dan silahkan dicoba untuk tidak mengedipkan mata selama 5 menit saja, bagaimana rasanya? Namun, pernahkah kita mensyukurinya?

 

Kemudian bagaimana dengan nikmat yang lebih besar, seperti hidung, mata, telinga, atau mungkin otak, jantung, tangan, kaki dan berbagai kelengkapan tubuh kita lainnya? Pernahkah kita mensyukurinya?

 

Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ

 

“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667).

 

Hadits ini benar sekali. Bagaimana mungkin seseorang dapat mensyukuri rizki yang banyak, bila rizki yang sedikit dan tetap terus Allah beri sulit untuk disyukuri? Bagaimana mau disyukuri? Sadar akan nikmat tersebut saja mungkin tidak terbetik dalam hati.

 

Kemudian, pada dasarnya setiap kebaikan yang kita rasakan merupakan nikmat dari Allah, maka keislaman, keimanan, dan ketaatan juga merupakan nikmat dari Allah, karena sungguh di luar sana banyak orang tidak diberi nikmat ini oleh Allah karena berbagai faktor, maka seharusnya kita pun bersyukur atas nikmat ini. Kita pasti telah membaca dan memahami bahwa kunci utama bertambahnya kenikmatan pada diri seseorang ialah sikap syukur nikmat. Dalam ayat suci Al Qur’an yang kita pasti pernah mendengarnya disebutkan,

 

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ

 

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7).

 

Maka salah satu kunci agar kita semakin taat kepada Allah sehingga semakin dekat dengan-Nya, adalah bersyukur dengan keislaman, keimanan dan ketaqwaan kita. Bersyukurlah kita bisa sholat, bersyukurlah kita bisa mengingat Allah di setiap waktu kita, bersyukurlah kita bisa menjauhi berbagai larangan-Nya, dan bersyukurlah atas segala hal.

 

Teruslah bersyukur atas nikmat dan rizki yang Allah beri, apa pun itu meskipun sedikit. Bersyukur bukan hanya sebatas ucapan Alhamdulillah, tapi bersyukur adalah dengan menggunakan nikmat tersebut untuk ketataatan kepada-Nya, meninggalkan maksiat, dan mendekatkan diri pada Allah.

 

Abu Hazim mengatakan, “Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah, itu hanyalah musibah.” Mukhollad bin Al Husain mengatakan, “Syukur adalah dengan meninggalkan maksiat.” (‘Iddatush Shobirin, hal. 49, Mawqi’ Al Waroq).

 

Read more https://rumaysho.com/1975-bersyukur-dengan-yang-sedikit.html

 

———-

 

KaLAM FK UGM 1437 H

|Build Inside, Spread Outside|

 

📬Email: kalam.ugm@gmail.com

👥FP: facebook.com/kalamfkugm

📱Line: @pcg1356f

🔔Twitter: @kalamfkugm

🗼Instagram : @kalamfkugm

📺YouTube: KaLAM FK UGM

🌍Website: kalam.fk.ugm.ac.id 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *