Balada Titip Absen (Part 1)

 

“Duh aku baru bangun, TA lecture jam 7 ya, thankies bro.”

“Aku kemarin udah ikut lecture II, TA ya yang nanti.”

 

Dahulu kala, semua penuntut ilmu hidup dengan damai. Pada saat itu, kelas pukul 07.00 ramai didatangi tanpa keluh kesah. Bahkan, tetap ridha jika ada tambahan jam pelajaran ke-0 yang dimulai pukul 06.30.

Tapi, semua berubah ketika negara api menyerang.

Kelas pagi, tepat pukul 07.00, berubah status menjadi kelas terhoror abad ini. Ini merupakan latar belakang dari begitu memahasiswanya istilah ‘titip absen’ yang lebih praktis disebut sebagai ‘TA’.

Bahkan terkadang, mahasiswa sampai meminta bimbingan dosen demi TA yang lebih baik. Oke, TA yang satu ini berarti ‘tugas akhir’, tenar dengan nama Skripsi.

Lalu, bagaimana Islam memandang fenomena TA?

 

Yuk, sejenak kita mengintip menggunakan kacamata Islam.

“Dari Abu Bakrah Nufai’ bin Al-Harits radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Maukah kamu aku beritahukan kepada kalian tentang dosa besar yang paling besar?” – diulangi hingga tiga kali – Kami menjawab, ”Tentu saja wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, ”Menyekutukan Allah dan durhaka terhadap kedua orang tua.” Sedangkan beliau (pada waktu itu) dalam keadaan bersandar, lalu beliau duduk kemudian meneruskan sabdanya, “Ketahuilah! Dan perkataan palsu dan kesaksian palsu.” Beliau terus-menerus mengulanginya sampai-sampai kami berkata, ”Andai saja beliau diam”. (Muttafaqun ‘alaih)

Keadaan Rasulallah yang mengubah posisinya dari bersandar kepada duduk tegak mengisyaratkan pentingnya hal yang akan dibicarakan, penekanan akan keharamannya dan juga besarnya keburukan perkara ini.

Sebab, perkataan atau kesaksian dusta lebih mudah terjadi pada manusia dan ketidakpedulian terhadapnya banyak berlaku.

Sedangkan syirik, maka hal itu jauh dari hati seorang muslim. Begitu pula durhaka, hal ini secara naluriah ditolak oleh manusia.

Rasulallah terus-menerus mengulangi perkataannya yang terakhir ini sampai-sampai para sahabat berkata, ”Andai saja beliau diam”, karena mereka tidak suka terhadap sesuatu yang menyebabkan beliau marah.

Penggandengan perkataan dusta dengan syirik bahkan terdapat dalam Al-Qur’an

“Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta” (Al-Hajj: 30)

 

(bersambung)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *