Cognitive Dissonance

Pernahkah sobat merasa sedih atau depresi karena hal yang sobat harapkan, usahakan, atau inginkan tidak menjadi kenyataan?

Pernahkah sobat berusaha mencapai sesuatu tapi tiba-tiba saja ada rintangan sebesar gunung kilimanjaro yang tiba-tiba menghadang?

Atau yang paling gampang, deh, pernahkah sobat salah ketik sehingga jadi typo nggak keruan?

 

Ya, peristiwa yang sobat alami ini memiliki nama ilmiah yang disebut sebagai ‘cognitive dissonance’. Hal ini berarti suatu keyakinan kita akan sesuatu yang disadari secara kognitif/sadar, yang seharusnya terjadi menurut pengukuran dan teori kita, ternyata terbengkokkan oleh alam, sehingga kita merasa frustasi.

Hal ini merupakan sesuatu yang banyak dialami oleh para peneliti. Uri Alon, seorang ilmuwan yang juga banyak melakukan penelitian, mendeskripsikan bahwa suatu research itu harusnya merupakan suatu garis lurus dari A menuju B, dari pertanyaan menuju jawaban. Namun tidak begitu kenyataannya menurut beliau. Sepanjang garis lurus itu, sering kali para peneliti akan mengalami halangan yang membengkokkan garis lurus ini sehingga terjadilah cognitive dissonance. Akhirnya merekapun tersesat menuju suatu area berliku-liku dan berkabut yang membuat mereka stress. Sounds familiar?

Dalam situasi amburadul seperti ini, seorang muslim berada pada posisi superior. Seorang muslim sejati akan memiliki senjata mutakhir yang mampu membawanya keluar dari awan ini. Senjata ini akan berfungsi sebagai tabung oksigen, kacamata pelindung, serta jaket windbreaker yang menghangatkan pada alam liar puncak gunung yang ditutupi kabut kebingungan yang tak kenal ampun. Senjata ini bernama iman.

Iman akan mengingatkan kita, bahwa semua kekuasaan ada pada genggaman Sang Muqaddir, Yang Maha Berkuasa. Bahwa tidak ada satupun kejadian yang terjadi tanpa alasan tertentu.

Bahwa dimanapun kita berada, akan selalu ada yang mendengarkan isak tangis dan permohonan kita, As-Samii’.

Bahwa seberantakan apapun keadaan kita, akan ada yang selalu perhatian kepada kita, akan ada yang selalu memaafkan kesalahan kita, Al-Haliim, Al-Ghaffuur.

—-

Tapi gimana kalo masih sedih?

It’s fine, resapi rasa sedih yang menyesakkan itu, kemudian berusahalah untuk bangkit dengan perlahan, supaya tidak postural hypotension. 🙂

Jadi, lain kali sobat mengalami cognitive dissonance dan hilang arah, jangan putus harapan, karena sobat tidak pernah sendirian. Juga karena cognitive dissonance itupun merupakan kuasa Allah dan dapat Allah hapuskan dalam sekejap. 🙂

“…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

(Q.S. Al Hujurat Ayat 13)

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *