Aku dan Takdirku

 

 

Rangkuman materi CERIA

Jumat, 27 Maret 2015

Pembicara : Dilla Sri Wahyuni | Ilmu Kesehatan Masyarakat FK UGM 2013

 

Kebetulan saja tadi aku bertemu dengan fulanah,” ujar seseorang.

Sebenarnya, apakah ada yang namanya “kebetulan”? Di antara kita tentu saja pernah mengatakan hal seperti di atas. Jika kita mengatakan hal seperti itu, artinya kita masih percaya bahwa sesuatu bisa terjadi secara kebetulan. Padahal segala sesuatu itu tidak terjadi secara kebetulan, melainkan Allah sudah menetapkannya. Segala ciptaanNya sudah mempunyai ketentuan dan ketetapan masing-masing dari Allah. Daun yang jatuh saja sudah mempunyai ketentuan dariNya. Itulah yang disebut dengan takdir.

Lalu, apa sajakah jenis-jenis takdir?

Berdasarkan bisa/tidaknya dirubah, takdir dibagi menjadi 2, yaitu:

  1. Takdir Mubram; takdir yang tidak bisa dirubah lagi. Misalnya, Allah telah menetapkan matahari beredar, warna darah kita adalah merah, penciptaan bumi, dll
  2. Takdir Muallaq; takdir yang bisa dirubah.

Takdir muallaq ini adalah takdir di mana kita masih mempunyai ruang untuk mengusahakannya. Misalnya dengan berusaha, berdoa, bersungguh-sungguh, dll. Seperti firman Allah Ta’ala dalam surat Ar-Ra’d :

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d : 11)

Apa sih contohnya? Misalnya kesehatan dan kecerdasan. Kesehatan merupakan takdir kita yang masih bisa diusahakan. Di dalam kesehatan, kita mengenal istilah preventif (pencegahan) dan pengobatan. Lalu, kecerdasan juga bisa diusahakan dengan mengasah dan melatihnya. Artinya kita tidak menerima begitu saja tanpa usaha apa pun. Misalnya menganggap seseorang tidak bisa membaca sejak lahir lalu dibiarkan begitu saja tanpa ada usaha untuk merubahnya. Dengan tahu bahwa ada takdir yang bisa dirubah, maka kita akan berikhtiar semaksimal mungkin.

Ada takdir muallaq yang bisa dirubah. Lalu, amalan apa sajakah yang bisa merubahnya?

  1. Doa merupakan senjata orang mukmin. Allah berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Al-Mu’min:60)
  2. Bersedekah
  3. Bertasbih
  4. Bershalawat

Pada dasarnya, takdir sudah dituliskan di Lauhul Mahfudz, namun di sini ada pembagian untuk takdir, yaitu :

  1. Takdir umum; takdir secara keseluruhan. Takdir ini sudah ditetapkan Allah 50 tahun sebelum Allah menciptakan alam semesta dan seisinya.
  2. Takdir umuri; takdir yang berlaku untuk masing-masing individu. Ketika Allah meniupkan ruh ke dalam jasad kita ketika sedang di dalam rahim ibu (hari ke-120), Allah memerintahkan malaikatNya untuk mencatat takdir-takdir kita. Bagaimana rezeki, ajal, kebahagiaan, atau kesengsaraan kita. Jadi takdir kita sudah dituliskan saat kita belum dilahirkan.
  3. Takdir samawi; takdir yang dicatat setiap malam Lailatul Qadar. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disebut lailatul qadar karena di malam tersebut dicatat untuk para malaikat catatan takdir, rezeki dan ajal yang terjadi pada tahun tersebut. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah [1].” (QS. Ad Dukhon: 4)
  4. Takdir yaumi; takdir yang dikhususkan untuk semua peristiwa yang terjadi dalam satu hari.

Allah sudah mengetahui di mana tempat hamba-hambanya kelak di surga atau neraka. Lalu masih perlukah kita beramal? Jawabannya adalah iya. Hadis riwayat Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anha., ia berkata: Rasulullah ditanya, “wahai Rasulullah! Apakah sudah diketahui orang yang akan menjadi penghuni surga dan orang yang akan menjadi penghuni neraka?” Rasulullah menjawab, “ya.” Kemudian beliau ditanya lagi, “jadi untuk apa orang-orang harus beramal?” Rasulullah  menjawab, “setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang telah menjadi takdirnya.” (Shahih Muslim No.4789)

Jika kita melakukan suatu kesalahan, bolehkah kita berfikir “Sudah kehendak Allah aku melakukan kesalahan ini” ? Prinsipnya segala kebaikan datangnya dari Allah. Ketika ada keburukan pada diri kita, sesungguhnya itu karena diri kita sendiri. Kehendak Allah tidak akan terjadi tanpa kita yang melakukannya.

Buah Iman kepada Takdir

  1. Jalan yang membebaskan dari kesyirikan. Menerima takdir dari Allah salah satu bentuk iman kepada Allah. Ketika kita tidak bisa menerimanya, tidak ridho, menyalahkan Allah, menyalahkan orang lain, berkeluh kesah, bisa jadi aqidah kita sedang goyah. Hal tersebut bisa menjerumuskan kita pada kesyirikan
  2. Selalu berhati-hati
  3. Sabar dalam menghadapi persoalan hidup

 

 

[1] maksudnya: takdir dalam setahun

 

 

Nurul Wulandari | Publikasi dan Media | 29 Maret 2015

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *