Pantaskah Aku Menjadi Hamba Pilihan-Mu

Ceria (RK 2, 13-3-2015)
Pembicara : Nurul Hidayatullah

Menghamba dengan baik, kata orang adalah dengan menjalankan perintah sebaik-baiknya sesuai ketentuan. Di setiap perintah pula, akan ada hadiah dan hukuman. Dalam agama kita (Islam) sudah kita ketahui bahwa hadiah dan hukuman itu adalah surga dan neraka. Bagaimana sih agar kita yakin bahwa ada surga dan neraka? Yaitu dengan menjalankan ibadah sepenuh hati sesuai perintah agama.

Menjalankan perintah juga akan menjadi lebih mudah ketika kita mencintai yang memberi perintah, bukan hanya karena hadiahnya. Namun tidak benar jika kita mencintai sebelum kita mengenal. Sedangkan yang sangat wajib kita cintai sebagai pemilik agama Islam adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kita tidak bisa mencintai Allah jika belum mengenal-Nya.

Mengenal Allah tidak mungkin kita lakukan dengan menemui-Nya langsung, namun Allah telah memudahkan sang hamba mengenal-Nya melalui ayat-ayatnya;
1. Ayat Qauliyah, adalah ayat yangdisampaikan secara langsung dari Allah melewati perantara rasul-rasulnya. Contohnya Al-Qur’an dan Hadist Qudsi
2. Ayat Qauniyah, adalah ayat-ayat Allah yang Allah sampaikan tidak secara langsung. Misalnya melalui jawaban dari alam-alam sekitar kita, ilham.

Ayat Qauliyah dan Qauniyah itu saling mempengaruhi. Juga sekaligus membuktikan bahwa apa-apa yang ada di alam semesta ini adalah milik Allah. Sesungguhnya Allah telah memudahkan hamba-hamba-Nya untuk mendapatkan hidayah-Nya. Jika belum mendapatkan, bisa jadi kita yang belum pantas menerimanya. Ibarat kaca yang kotor, ia akan sulit untuk tembus cahaya. Sama dengan hati yang kotor, cahaya hidayah akan sulit menyinari di dalamnya.

Kemudian setelah mengenal, idealnya kita akan mencintai Allah itu dengan melakukan yang wajib dan berusaha melakukan yang sunah lalu istiqamah diiringi aksi tidak melakukan yang dilarang. Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah, apakah kamu mencintai Allah? Hmm, kalau kita mencintai seseorang, pasti kita pengen terus bersama orang tersebut kan? Nah, apakah kita sudah memiliki perasaan ingin selalu bersama Allah?

Dikatakan bahwa diri-Nya lebih dekat daripada vena jugularis, namun sudahkah kita mengingat bahwa Yang Maha Melihat selalu memantau setiap hamba-Nya? Karena itu perlulah kita berperilaku ahsan dan bersikap ihsan, yaitu menanam dalam hati bahwa apa-apa yang dilakukan selalu menyertai Allah sehingga kita terdorong untuk berbuat baik. Ketika kita dipantau CCTV 24 jam, what will you do? Apalagi Allah yang mempunyai sifat Bashiir dan tidak pernah tidur.

Dikisahkan bahwa Rasulullah pernah memberitahu Fathimah tentang kematiannya yang sudah dekat. Sebagai anak, tentunya Fathimah merasa sedih. Kemudian Rasulullah mengatakan “Kau adalah orang pertama yang menyusulku” Bagaimana respon Fathimah mendengar kabar tersebut? Fathimah tersenyum.

Sahabat, bagaimana dengan kita yang tidak mengetahui kapan ajal menjemput? Mari memperbanyak amal ibadah seakan-akan esoklah hari terakhir dan menjadikan kita mengingat bahwa malaikat tidak pernah lelah mencatat apapun kegiatan kita setiap detiknya. Agar Allah menganggap kita pantas menjadi hamba pilihan-Nya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *