[Ma’had KaLAM] Aqidah dan Tauhid

15 Maret 2013

Bismillah.

Assalamu’alaykum. Bahasan Mah’had KaLAM perdana nih, simak terus materinya sampai habis yaa. BKK tambahin dari sumber lain biar makin lengkap, siip. Kalau ada temen2 yang saat kajian mencatat lebih, boleh banget dibagi disini. J

 

Secara bahasa aqidah (al-‘aqdu) berarti mengikatkan sesuatu. Secara istilah, aqidah adalah keyakinan hati dan pembenaran terhadap sesuatu. Aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikitpun bagi orang yang meyakininya. Pokok-pokok aqidah Islam biasa dikenal dengan istilah rukun iman:

  • Beriman kepada Allah
  • Beriman kepada para malaikat
  • Beriman kepada kitab-kitabNya
  • Beriman kepada RasulNya
  • Beriman kepada hari akhir
  • Beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk

 

Nah, kalo tauhid secara istilah adalah mengesakan Allah SWT dalam hal-hal yang menjadi kekhususan diriNya.  Sehingga bisa dianggap tauhid adalah bahasan khusus dalam rukun iman yang pertama yaitu beriman kepada Allah. Bisa dibilang tauhid ini lebih spesifik dari aqidah. Cakupan bahasan tauhid meliputi:

  • Tauhid Rububiyah. Biasanya berawalan me-. Tauhid ini muncul didalam hati kita bahwa Allah sebagai sang Khalik, yang menghidupkan, menciptakan dan tiada Tuhan selain Allah.
  • Tauhid Uluhiyah. Berawalan di-. Allah adalah satu-satunya yang wajib disembah, dicintai, ditakuti, ditaati, diutamakan.
  • Tauhid Asma wa Sifaat. Meyakini Allah dengan nama dan sifat-sifatnya.

 

Aqidah, terlebih masalah tauhid merupakan hal yang sangat penting dan mendasar. Dakwah Rasulullah selama 10 tahun hanya terfokus pada penanaman aqidah lo. Barangsiapa yang tauhidnya benar maka baik pula Islamnya dan barangsiapa tauhidnya rusak maka sia-sialah amalnya. Kenapa? Jawabannya ada di bawah ini, baca terus ya.

 

Hmm.. Sudah bisa membedakan aqidah dan tauhid? Jadi, tauhid adalah intisari dari aqidah. Tauhid pasti aqidah tetapi aqidah belum tentu tauhid. Disini kita ibaratkan aqidah adalah seorang muslim, sementara tauhid adalah orang mukmin. Samakah seorang muslim dengan mukmin? Pasti beda lah yaa. Seorang muslim belum tentu mukmin, tetapi mukmin pasti muslim.

Wilayah tauhid adalah syahadatain, “Laa ilaaha illallah, muhammadur rasulullah.” Sedangkan wilayah aqidah lebih luas dari tauhid. Contoh aqidah, kita percaya dengan terjadinya Isra’Mi’raj. Kita yakini saja, tak perlu menunggu bukti ilmiah untuk yakin. Karena kita beriman maka kita terikat untuk meyakini hal tersebut.

 

Kenapa sih aqidah itu penting? Iya, karena bahasan aqidah banyak di Al-Quran. Apapun yang ada di Quran pasti penting kan.. Mau tahu apa aja? Ayo buka lagi mushafnya.

 

  1. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah dia melakukan amal shalih dan tidak mempersekutukan sesuatupun dalam beribadah kepada Rabbnya.” QS. Al-kahfi: 110
  2. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah Kami wahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu, seandainya kamu berbuat syirik niscaya akan lenyap seluruh amalmu dan kamu pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” QS. Az-Zumar: 65
  3. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” QS. An-Nahl: 36. Ayat ini jelas sekali menunjukkan bahwa para rasul yang paling utama adalah memperbaiki aqidah. Agar umat tidak menyembah selain kepada Allah.
  4. Allah ta’ala berfirman mengenai seruan para rasul kepada kaumnya (yang artinya), “Sembahlah Allah saja, tidak ada bagi kalian satupun sesembahan selainNya.” QS. Al-a’raf: 59,65,73,85. Ucapan ini dikatakan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib dan segenap nabi alaihisalam kepada kaumnya.

 

Ustadznya juga sharing metode untuk kita bisa memahami tauhid dengan benar. Tercatat ada 4 cara (ada yang mau nambahin?):

 

ü  Beriman kepada seluruh nama dan sifat allah yang ada di Al-Quran dan sunnah Rasul. Allah punya 99 asmaul husna. Nama-nama indah itu adalah sifat Allah yang harus kita hayati sebagai yakin kita akan sifat Allah. Contoh nya al-Bashiir yaitu Maha Melihat, maka harus selalu terbersit dihati kita bahwa Allah pasti melihat apa yang kita kerjakan sehingga kita jadi takut untuk berbuat yang dilarang oleh Allah.

Contoh lain, kita bisa mengklasifikasikan manusia dilihat dari sudut pandang Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Pertama, manusia pada umumnya maka berlaku sifat ar-rahman (Maha Pengasih) dimana sifat Allah ini berlaku bagi semua mahkluk di bumi. Kedua, muslim, ketiga mukmin dan keempat muttaqin (orang yang bertakwa). Hanya orang yang beriman saja yang akan merasakan sifat Allah ar-Rahim (Maha Penyayang).

ü  Menolak sifat Allah yang bertentangan atau tidak sesuai dengan Dzat-Nya.

ü  Dalam mempelajari aqidah, tidak boleh mencari tentang “cara” atau “bagaimana”. Misal, kita dilarang bertanya-tanya bagaimana singgasana Allah? Bagaimana cara Allah turun ke bumi? Kita yakini saja, karena hal tersebut bukan kapasitas kita sebagai makhlukNya.

ü  Dalam mempelajari aqidah, tidak boleh menyerupai sifat Allah. Misal, Allah tidak pernah tidur dan tidak pernah lupa. Hal ini mutlak hanya Allah saja dan tidak mungkin terjadi pada makhluknya. Lupa adalah fitrah manusia, tetapi jika kebanyakan maka itu namanya adzab.

 

 

Alhamdulillah.

Afwan banyak kurang di postingan perdana ini. Kebenaran hanya dari Allah dan kurang dan salah hanya dari perangkum materi. Semoga bermanfaat.

Jazakumulloh khoir.

 

Sumber: pengisi materi dan muslim.or.id

@BKK.aras 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *