Kisah Layang-Layang

Pada suatu sore yang cerah, dua anak laki-laki keluar untuk bermain. Masing-masing mereka membawa sebuah layang-layang. Yang satu membawa layang-layang berwarna biru, dan yang satunya lagi membawa layang-layang merah. Di lapangan mereka menerbangkan layang-layang masing-masing, hingga tinggi ke langit yang hampir tak berawan.

Di atas sana, layang-layang merah berbicara pada layang-layang biru.

”Hey, Biru, sore yang lumayan, ya.”

”Benar, Merah, cerah dan menyenangkan,” balas Biru sambil tersenyum.

Selama beberapa saat mereka berbincang-bincang. Tak hanya tentang eloknya panorama sore itu dari langit, tapi juga tentang diri mereka masing-masing. Tentang kesukaan mereka, juga tentang sifat-sifat mereka.

”Kau tahu, Biru, aku sebenarnya bosan terbang di atas lapangan terus. Pemandangannya itu-ituu terus, gak pernah ganti,” keluh Merah.

”Iya sih, tapi coba pikirkan, Merah, menurutku memang di sinilah tempat terbaik bagi kita untuk terbang. Tanpa harus khawatir tersangkut pohon, tiang listrik, rumah, atau pun hal-hal lainnya. Tidakkah kau sadar itu, Merah?” nasihat Biru.

”Tapi tak pernahkah kau dengar pepatah, semakin besar risiko, semakin besar yang kita dapatkan?” balas Merah dengan ketus. ”Ya, aku tahu memang berbahaya terbang di atas jalan raya, atau perumahan, atau juga pepohonan. Tapi di balik bahaya itu, ada balasan yang setimpal.”

Biru berpikir, ia merasa Merah ada benarnya juga. ”Tapi, aku tidak punya cukup keberanian untuk itu.”

”Ah, akhirnya kau mengaku juga.”

“Lagipula, kau yakin balasannya benar-benar setimpal?” tanya Biru.

”Entahlah, tapi karena itu juga aku jadi begitu penasaran. Dan kalau kau juga ingin tahu sepertiku, kau harus kuat. Jika kau lemah, kau akan terjebak dalam kebosanan selamanya. Terus begitu sampai kau berani mengambil tindakan,” kata Merah agak sombong.

”Hmm…” Biru terdiam. Ia merenungi kata-kata Merah, dan mulai mengerti. Tapi tanpa keberaniannya, ia tetap tak bisa apa-apa. ”Aku… di sini saja, deh.”

”Ih, dasar penakut.” Kali ini, keangkuhan Merah benar-benar terlihat.

Melihat tekad Merah yang tampaknya tak akan bisa ia susul, Biru mencoba melupakannya dan menikmati pemandangan indah yang hampir habis itu. Tak apa tak pernah berubah, pikirnya, yang penting tetap bisa dinikmati. Dan siapa tahu, barangkali memang inilah hal terbaik yang bisa didapatkannya.

Tidak seperti Biru yang tersenyum, Merah cemberut. Ia merasa sangat bosan. Tapi tiba-tiba, ia mendapat sebuah ide.

”Hey, Biru!” panggil Merah.

Biru menoleh.

”Hey, penakut, maukah kau kuajari agar menjadi berani?” ajak Merah.

Biru sempat berpikir, Merah pasti akan mengajaknya pada hal-hal yang berisiko, persis seperti yang baru dikatakannya tidak lama sebelumnya. Tapi ia memutuskan bahwa ia harus berubah. Keberanian adalah hal yang penting, dan ia pun mengikuti ajakan Merah.

”Sebagai langkah awal, bagaimana kalau kita naik lebih tinggi?” kata Merah.

”Eh, sepertinya itu tidak terlalu buruk.” Meski agak was-was, Biru menyanggupi ajakan Merah.

”Baiklah, ayo!” Merah pun terbang semakin tinggi dan tinggi. Sesekali ia menengok ke bawah untuk melihat keadaan Biru. ”Ini belum ada apa-apanya, kau harus berani, Biru!”

Berkebalikan dengan Merah yang cepat, Biru naik secara perlahan-lahan, dan hati-hati.

”Berhentilah naik jika kau sudah dekat denganku! Ketinggian terbang kita ada batasnya.” nasihat Merah.

Tak lama berselang, sampailah Biru di dekat Merah. Mereka sudah mencapai ketinggian tertinggi, dan tali layang-layang mereka berdua kini hampir tegak. Dari kedudukan ini, mereka berdua bisa melihat lebih jauh. Biru begitu senang bisa mendapat pemandangan baru, sementara Merah memandang penasaran ke sebuah tempat di jauh sana.

”Hey, Biru, menurutmu apa itu yang di sana?” tanya Merah.

Biru menoleh. ”Mana kutahu, aku kan belum pernah ke sana.”

”Hmm…” Merah sangat penasaran dengan tempat yang menurutnya baru itu. Sementara Biru menikmati panorama baru di ketinggian itu, Merah sibuk memeras otak. Akhirnya, usaha kerasnya berbuah hasil.

”Aku sudah menemukan cara untuk pergi ke sana.” kata Merah dengan bangga.

”Itu jauh sekali, kita takkan bisa ke sana!” larang Biru. ”Tali kita tidak cukup panjang!”

”Jangan khawatir, aku sudah menemukan cara untuk mengatasinya.” kata Merah tenang. ”Kau akan membantuku memutus taliku!”

”Apa?!” Belum pernah Biru sekaget ini sebelumnya. ”Tapi… tapi… aku tidak bermaksud menyinggung, tapi itu adalah ide tergila yang pernah kudengar!”

”Ayolah, kau hanya tinggal memutuskan tali yang membelengguku ini dan selesai, kau bebas!” bujuk Merah.

”Tapi… kau bisa bilang bahwa tali ini membatasi gerak kita, tapi justru karena itulah kita tidak terhanyut bersama angin sampai negeri antah-berantah. Dan dengan tali inilah kita bisa kembali pada pemilik kita. Kalau tali ini terputus, kita akan terbawa angin dan jatuh di tempat yang tidak kita sukai, dan kita akan terjebak di sana selamanya.” jelas Biru panjang lebar saking khawatirnya.

”Hey, aku hanya memintamu memutus tali milikku saja!” Merah tetap keras kepala.

”Tapi kau tak akan pernah bisa kembali,” ingat Biru.

”Ah, anak lain akan menemukanku,” balas Merah ketus.

Akhirnya, Biru menuruti keinginan Merah. Ia menggosokkan talinya sedemikian rupa hingga tali milik Merah putus. Merah pun terbang bersama angin, semakin lama semakin jauh, dan semakin terlihat kecil.

Merah gembira, dan tertawa riang. Kini angin membawanya tepat menuju tempat yang diinginkannya. Merah sudah tak sabar lagi, ia mencoba menerka kira-kira seperti apa tempat itu. Dalam perjalanannya, ia sempat menengok Biru yang memandangnya dengan mimik khawatir. Tapi tak dihiraukannya, Merah justru merasa kasihan pada Biru. Tak lama kemudian, sampailah Merah di tempat yang dinantinya, di sebuah danau.

”Wow! Luar biasa!” kata Merah takjub. Merah belum pernah terbang di atas danau sebelumnya, di atas hamparan luas berwarna biru, dan kini ia gembira bisa mengetahui betapa menyenangkannya rasanya.

Angin membawa Merah makin jauh, hingga sangat jauh. Merah sendiri hampir tak percaya bahwa dunia begitu luas, dan memiliki beragam hal-hal indah. Di sana, Merah bisa melihat begitu banyak pemandangan baru, yang membuat hatinya teramat berbunga-bunga. Ada sungai, air terjun, bukit, gurun, pantai, dan lain-lain. Kegembiraannya karena keindahan panorama itu membuatnya terlupa akan peringatan Biru. Merah bahkan malah menyesal mengapa tidak melakukan ini sedari dulu.

Tapi tanpa tali, layang-layang tak bisa selamanya terbang, meski sang angin kian abadi. Makin jauh Merah berkelana, makin rendah terbangnya. Merah sempat mengeluh akan hal ini, tapi semua usahanya sia-sia. Merah terus turun, hingga akhirnya ia jatuh di sebuah hutan meranggas, hutan yang telah menggugurkan daun-daunnya. Ketika itu, Merah masih senang bisa menyaksikan pemandangan dedaunan jingga dan kuning dimana-mana. Tapi kemudian, Merah sadar akan peringatan Biru tentang terjebak. Merah pun mulai khawatir, lalu ia mencoba menenangkan diri dengan berharap ada anak yang melihat dan memungutnya. Tapi anak macam apa yang bermain di tempat seperti ini?

Begitu lama Merah menunggu, dan tak ada hasil yang terlihat. Merah terjebak di hutan itu, selamanya. Pemandangannya mungkin tidak buruk, tapi kondisi cuaca di luar sama sekali tak bersahabat dengan layang-layang. Hujan, topan, terik matahari, semuanya menyengsarakan Merah. Dan akhirnya, Merah pun menyesal. Ia juga rindu pada Biru, yang saat ini mungkin sedang berenak-enakan di dalam rumah pemiliknya. Merah menangis. Dalam kesepian dan penderitaannya itu, Merah hanya bisa berandai-andai. Jika saja ia tidak memotong tali layang-layangnya, jika saja ia tidak memutus tali penjaganya, jika saja… jika saja…

kisah ini disadur dari: Kemudian.com
diterbitkan juga di Kumpulan Cerita Anak: Beramal Lewat Cerita

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *