Ketetapan Hati Tenaga Kesehatan Muslim Indonesia

Kalau dari awal udah terpikat sama judul artikel yang satu ini nggak bakalan nyesel deh. Judul ini adalah tema dari AMT yang dilaksanakan waktu acara The 7th Antibiotic yang dilaksanakan tanggal 8-9 Oktober 2011 kemarin di Malang, tepatnya di Universitas Brawijaya. Sekedar ingin berbagi ilmu dengan teman-teman semua, semoga yang sedikit saya ingat bisa bermanfaat banyak. Selamat membaca…

Sebagai seorang mahasiswa tentunya kita tak lepas dari yang namanya pikiran tentang akademik dan tak lepas juga dari yang namanya amanah di organisasi yang kita ikuti. Sering kita merasa lelah akan semua beban yang kita pikul, mulai dari tugas-tugas akademik yang kian mengalir bagaikan air, tapi dituntut juga untuk menyelesaikan kewajiban kita di organisasi. Bahkan mungkin pernah kita merasa iri pada teman-teman kita yang study oriented atas kelonggaran waktu yang mereka miliki. Tapi sadarlah kawan, bersyukurlah karena kita masih diberikan amanah oleh Allah. Itu artinya Allah tak ingin waktu yang diberikan-Nya kita gunakan dengan sia-sia. Coba tengok salah satu kata-kata orang bijak berikut ini

“Jika kesibukan membuat kita letih, waktu luang membuat kita rusak”

atau yang satu ini

“Bila hidup tidak disibukkan dengan kebaikan, maka kebatilan akan menyibukkannya”

Tapi tetap harus diingat bahwa kesibukkan yang kita alami jangan sampai menjauhkan kita dari Allah. Ketika kita semakin jauh dari Allah, hati ini tidak akan tenang. Perbaiki hubungan kita dengan Allah melalui shalat malam. Bila perlu kita saling mengingatkan agar senantiasa dekat dengan Sang Maha Agung. Membaca surat cinta dari-Nya juga akan lebih mengingatkan kepada kita tentang kebesaran kuasa-Nya. Karena Al-Qur’an adalah panduan sempurna di segala zaman. Isinya tidak hanya mencakup tentang pengetahuan orang-orang terdahulu tetapi juga tentang kehidupan masa kini maupun masa mendatang. Kenyataannya banyak penelitian terkini yang ternyata sudah diungkapkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Salah satunya adalah tentang pertemuan 2 laut yang berbeda tetapi antara keduanya tidak saling bercampur. Manusia baru menemukannya belum lama ini, tapi Allah telah menuliskan hal itu dalam QS Ar-Rahman ayat 19-20 sejak ribuan tahun yang lalu. Subhanallah….nikmat-Nya yang manakah yang kan kau dustakan…

Ada sebuah cerita yang cukup menarik. Kebetulan di suatu universitas ada seorang staff yang sebut saja bernama Pak Marjo yang berteman akrab dengan dr. Budi. Pak Marjo yang berusia 56 tahun ini sering bercerita tentang banyak hal dengan dr. Budi. Mulai dari masalah keluarganya sampai tentang permasalah di kantor. Singkat cerita ternyata Pak Marjo divonis menderita kanker tenggorokan. Keadaan ini menyebabkan leher beliau dilubangi agar jalan nafasnya tidak terganggu. Kondisi tersebut mengharuskan beliau berbicara dengan suara kerongkongan yang sangat berat.

Walaupun demikian, beliau tidak pernah merasa bersedih maupun minder dengan keadaannya. Dia tetap menjalani hari-harinya seperti biasa. Bahkan yang lebih mengagumkan adalah beliau malah memiliki aktivitas tambahan yakni menjelajah beberapa daerah untuk mengisi pelatihan tentang ventrilokuis. Tidak hanya mengajari tentan teknik ventrilokuis, tapi beliau juga memberi motivasi kepada orang-orang yang senasib dengannya agar tidak berputus asa. Beliau meyakinkan bahwa denga kondisi tersebut masih banyak hal yang dapat dilakukan. Dalam pelatihan tersebut beliau rela tak dibayar sepeser pun, yang diinginkannya hanyalah munculnya semangat dari mereka semua. Tak ada gurat kesedihan dimukanya ketika tak mendapatkan upah dari pelatihan tersebut, tapi yang tampak adalah gurat kepuasan ketika telah menyampaikan suatu hal yang dapat bermanfaat bagi orang lain. Pak Marjo melakukan semua itu dengan rasa ikhlas, hanya mengharap balasan dari Allah.

Dengan aktivitas Pak Marjo yang semakin sering tidak di kantor, maka beliau pun juga semakin jarang bertemu dengan dr. Budi. Suatu ketika Pak Marjo ingin bersilaturahim ke rumah dr. Budi yang sudah lama tak dijumpainya. Tak hanya sekedar silaturahim, beliau juga ingin mohon diri bahwa tidak akan bekerja di kantor tersebut lagi karena Pak Marjo dinobatkan sebagai ketua dari suatu perkumpulan internasional penyandang kanker.

Nilai yang dapat dipetik dari cerita singkat tersebut adalah tentang keikhlasan berbuat. Allah telah menentukan jalan tujuan hidup kita untuk menjadi seorang tenaga kesehatan. Allah ingin kita dapat menyehatkan orang lain dengan tangan kita. Jika kita lihat yang terjadi sekarang ini, kesehatan semakin komersil. Sampai-sampai orang miskin takut berobat karena mahalnya biaya yang akan ditanggung.

Menjadi seorang dokter yang siap praktik bukan berarti terbukanya ajang untuk balik modal atas biaya pendidikan yang telah dikeluarkan sebelumnya. Ketika ada orang yang sakit, kitalah yang punya andil besar dalam menyembuhkan mereka. Salah satu poin pada sumpah dokter adalah “Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan”. Jadi bukan harta yang pertama kali dipandang, tapi kesehatan penderita. Menjadi seorang dokter adalah ajang untuk lebih banyak memberi manfaat bagi orang lain.

Jadi kawan, marilah renungi kembali tujuan kita menjadi seorang tenaga kesehatan. Menyelamatkan nyawa dan meringankan penderitaan bukan untuk menguras keuangan pasien. Jangan lelah pula dalam menimba ilmu Allah yang tak akan selesai walaupun ditulis menggunakan pena yang tintanya dari 7 samudra.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *