Ramadhan Over the Globe

Datangnya bulan suci Ramadhan, sangat dinanti kaum Muslimin di berbagai penjuru dunia. Berikut ini gambaran sekilas bagaimana umat Islam menyambut hadirnya bulan penuh ampunan itu.

Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, beliau bersabda,“Siapa berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan demi mencari pahala, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu.”

Jepang

Dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan, umat Islam di Jepang saling berbagi kebahagiaan dengan saudaranya sesama Muslim. Namun jauh sebelum datangnya Ramadhan, kaum muslimin di Negeri Sakura itu telah mempersiapkan diri. Islamic Centre Jepang misalnya, telah membentuk semacam panitia Ramadhan yang bertugas menyusun kegiatan selama bulan puasa, mulai dari dialog keagamaan, majelis taklim, shalat tarawih berjamaah, penerbitan buku-buku keislaman dan segala hal yang terkait dengan pelaksanaan ibadah puasa.

Panitia juga menerbitkan almanak Ramadhan dan mendistribusikannya ke rumah-rumah keluarga Muslim maupun ke masjid-masjid. Almanak ini juga dibagikan ke restoran-restoran halal di seantero Jepang. Panitia ini mulai bekerja ketika telah muncul hilal dan berakhir pada saat Idul Fitri. Jika tidak nampak hilal tanda awal puasa dimulai, maka panitia mengikuti ketetapan hilal Malaysia, negara tetangga terdekat.

Austria

Sebagaimana tradisi di negeri Islam lainnya, Muslim di Austria menyambut kehadiran bulan Ramadan dengan penuh suka cita. Mereka menjalankan ibadah shalat tarawih di sekitar lima puluh masjid di Wina dan kota-kota Austria lainnya. Umat Islam Austria juga kerap datang ke masjid secara teratur untuk mendengarkan kajian agama tentang hukum Islam, tafsir al-Qur’an dan ilmu pengetahuan.

Vienna Islamic Center

Di Wina juga terdapat sebuah Islamic Center yang didirikan dan dibiayai oleh negara-negara Muslim. Islamic Center ini merupakan pusat informasi dan dakwah Islam. Kuliah-kuliah keagamaan maupun khutbah kerap diberikan oleh kelompok sarjana Muslim terkemuka dari Al-Azhar, Mesir dan tempat-tempat lain. Shalawat tarawih di Islamic Center diadakan secara teratur. Lebih dari itu, Islamic Center ini juga menyediakan hidangan sahur dan buka puasa sepanjang bulan Ramadhan.

Menjelang bulan suci Ramadhan, Muslim di Austria biasanya menggelar kampanye pengumpulan paket lebaran untuk keluarga miskin dan hadiah lebaran untuk anak-anak yatim piatu di Palestina. Kampanye ini dikordinir oleh organisasi kemanusiaan Palestina yang ada di Austria. Kampanye yang diberi nama Feeding Fasting Palestinians ini mendapat sambutan positif dari Muslim Austria. Mereka berlomba-lomba menginfakkan hartanya. Untuk menyebarluaskan kampanye bantuan bagi warga Palestina ini, warga Muslim Austria menggunakan berbagai cara, seperti penyebaran poster, pemasangan iklan dan jasa pos. Semua bantuan dikirimkan melalui lembaga-lembaga sosial yang beroperasi di wilayah Palestina.

Untuk menentukan jatuhnya awal bulan Ramadhan, Muslim Austria sepakat mengikuti Arab Saudi. Sebelumnya, selama bertahun-tahun, warga Muslim yang berasal dari berbagai etnis, seperti Mesir, Suriah dan Turki tersebut, berbeda-beda dalam menentukan jatuhnya awal bulan Ramadhan, disesuaikan dengan negara asalnya masing-masing.

Mesir

1. Di Mesir terdapat sebuah meriam tua yang digunakan sebagai penanda bulan puasa. Tiap waktu imsak dan buka puasa, meriam ini disulut hingga mengeluarkan bunyi dentuman yang keras. Meriam yang diberinama Hajjah Fatimah ini adalah warisan dari Muhammad Ali Pasha, yang menurut cerita, adalah putri Ustman Khos Qadam, penguasa Dinasti Usmani. Walau meriam itu telah diganti, namanya tetap tak berubah. Meriam ini biasanya ditempatkan di dataran tinggi Moqattam dekat Citadel. Empat orang ditugaskan untuk menjaganya dan menyulutnya untuk membangunkan orang makan sahur atau mengingatkan waktu berbuka puasa.

2. Suasana Ramadhan di Mesir berlangsung khidmat. Setiap orang, mulai dari kota hingga desa lebih betah tinggal di masjid. Wajar jika selama Ramadhan, shaf jamaah masjid tidak berkurang. Terlebih sepuluh hari menjelang Idul Fitri, masjid-masjid penuh sesak. Hampir di tiap masjid besar Kairo, menyelenggarakan shalat tarawih cukup lama. Setiap malam sang imam menghabiskan bacaan 1 juz al-Qur’an. Hingga akhir Ramadhan, bacaannya genap 30 juz. Salah satu masjid terkenal dan paling diminati jamaah Ramadhan adalah Masjid Amr bin Ash. Masjid ini merupakan masjid pertama di Afrika dan menjadi markas Ikhwanul Muslimin, dibangun oleh sahabat Amr bin Ash saat membebaskan Mesir pada masa khalifah Umar bin Khattab. Masjid yang agak jauh dari pusat kota ini, setiap malamnya membacakan 1 juz al-Qur’an.

Bangladesh

Suasana Ramadhan di Bangladesh sangat berbeda. Umat Islam, lebih banyak memanfaatkan waktu bulan puasa untuk memperbanyak membaca buku agama. Sudah menjadi tradisi di Bangladesh, tiap tahun dibuka pameran buku di bulan Ramadhan. Jadilah bulan Ramadhan bagi Muslim di negeri pecahan India itu sebagai bulan membaca buku.

Pameran buku berlangsung sejak hari pertama hingga pengujung Ramadhan. Biasanya lokasi pameran di Masjid Bait Al-Mukarram di ibukota Bangladesh, Daka. Sejak mulai diberlakukan tahun 1982, pameran buku ini dilakukan atas kerjasama antar berbagai lembaga Islam di Bangladesh dan juga Menteri Urusan Agama.

Para penerbit buku terbiasa menyediakan serangkaian kitab baru dalam pameran satu bulan berikut harga diskon untuk memancing animo pembeli. Panitia pameran kadang menyediakan sejumlah buku gratis pada jam-jam tertentu di waktu pagi atau sore. Dalam pameran Ramadhan ini, pengunjung yang datang tidak hanya dari umat Islam saja, yang non-Muslim pun ikut memadati ruang pameran.

China

Dengan kian dekatnya Ramadhan, imam-imam lokal di Cina mulai memberi tahu orang-orang tentang pentingnya mengkaji al-Qur’an dan sunnah, terutama yang berhubungan dengan puasa dan akhlak. Muslim Cina terbiasa shalat tarawih 20 rakaat. Setiap habis dua rakaat mereka biasanya berseru, “Wahai, Zat (Allah) yang mengubah hati dan penglihatan, yang menciptakan siang malam, teguhkan iman kami dalam kebenaran.”

Beragam aktivitas keislaman diselenggarakan di masjid-masjid Cina seperti kajian tafsir al-Qur’an sebelum tarawih dan memburu malam lailatul qadr. Panganan tambahan seperti teh, gula-gula dan kurma disajikan di tiap rumah sebagai pembeda bulan penuh berkah ini dengan hari-hari biasa. Begitu menjelang hari raya Idul Fitri, kaum Muslimin Cina juga diselimuti kebahagiaan dan saling berucap selamat hari raya.

Dari Abu Hurairah ra, ia menuturkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung berfirman,‘Setiap amal anak Adam itu (pahalanya) untuknya, kecuali puasa. Karena sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya.’

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *