Islam for Better Health

dr. Pukovisa Prawiroharjo, SpS

Tubuh yang sehat belum tentu menjadi manusia sehat, karena manusia sehat memerlukan jiwa sehat, psikis sehat, social sehat serta aqidah, ibadah, dan orientasi hidup sehat. Kesehatan seharusnya disyukuri begitu juga ketika sakit. Sesakit apapun harus bersyukur karena sakit itu datangnya dari Allah SWT dan meyakini bahwa Yang Maha Menyembuhkan itu Allah SWT bukan dokter atau tenaga medis yang hanya sebagai perantara.
Sebagai pasien hendaknya mendekat pada Yang Maha Menyembuhkan dan berobat pada ahlinya yang memiliki ilmu yang kompeten. Memakai perantara kesembuhan (obat,herbal,dsb) hanya atas dasar ilmu. Jika tidak berilmu, hindari bereksperimen dengan diri sendiri, temui dan diskusikan dengan ahlinya (dokter). Begitu juga dengan dokter dan tenaga medis lainnya, sebagai perantara, sebaiknya mendekatkan diri pada Yang Maha Menyembuhkan untuk mendapat hidayah dari-Nya, kompeten dan professional di bidangnya, dan menjunjung tinggi etika kesehatan dan akhlaq karimah.
Kedokteran sekarang
Dunia kedokteran sekarang sudah bercampur dengan paham kapitalisme. Pertama, ilmu kedokteran sekarang sulit diakses. Buku- buku berbayar mahal, situs-situs di internet sulit diakses meski beberapa dapat diakali. Pada jaman islam dulu buku- buku dapat diakses bebas untuk semua orang dan penulis mendapat bayaran dari negara. Kedua, pelayanan kesehatan makin mahal dan mahal diikuti dengan perkembagan teknologi. Berkebalikan dengan system islam dimana pelayanan kesehatan gratis, tenaga kesehatan dibayar oleh negara. Ketiga, penelitian kedokteran sering disponsori sponsor tertentu sehingga dapat membuat hasilnya tidak objektif dan berbiaya mahal. Di islam penelitian kesehatan didukung penuh oleh negara sehingga independensi peneliti terjamin tidak ada pesan sponsor. Keempat, di Indonesia dokter ingin kaya dengan melakukan hal-hal berhubungan dengan bedah, pemeriksaan diagnostic, resep obat ( semakin banyak obat diresepkan semakin banyak keuntungan), dan sebisa mungkin mendapat pasien dirawat. Dokter peneliti menjadi sangat jarang karena dianggap sulit mendapat profit lebih. Di islam dokter menjadi kaya karena mendapat pasien sehat sebanyak- banyaknya, cost effective diagnosis dan treatment. Dokter juga melakukan banyak penelitian dan membuat buku. Intinya islam tidak mementingkan keuntungan untuk diri sendiri melainkan mementingkan keuntungan umat manusia untuk menjadi manusia sehat berilmu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *