ENTREPENEURSHIP FESTIVAL ( HIMIKA, KALAM, BEM )

Istilah entrepeneurship mungkin asing bagi sebagian kalangan mahasiswa, apalagi mahasiswa kedokteran yang notabene belajar sains terapan yang berhubungan dengan manusia, namun bagi mahasiswa yang suka belanja ataupun dalam hal menghasilkan uang pasti tidak merasa asing dengan kata tersebut.

Entrepeneurship atau berwirausaha adalah salah satu softskill yang bisa dimiliki semua orang, tidak hanya yang orang tuanya pedagang, sehingga menular ke anaknya namun pada orang yang ingin mencari uang sendiri dengan jalan wirausaha. Oleh karena itu untuk lebih mengenalkan entrepenurship, maka di dalam rangkaian acara entrepeneurship festival diadakan seminar dan trainingbisnis online.

Seminar entrepeurship menghadirkan pembicara yang kreatif, inovatif, independen dan yang pasti berpengalaman dalam dunia entrepenurship. Pembicara tersebut berjumlah 3 orang, alumni ugm semua, yaitu Saptuari Sugiarto ( mas Saptu) pemilik kedai digital, alumni fakultas geografi Ugm, Agung Nugroho Susanto, S.H pemilik simply fresh laundry, alumni fakultas hokum Ugm, dan yang ketiga M.Ridwan Ansari, S.Gz, alumni fakultas kedokteran jurusan gizi, pemilik sukri( sukun bakery).

Pembicara yang pertama adalah Saptuari Sugiharto. Lelaki berusia 29 tahun itu telah mulai berbisnis kecil-kecilan sejak kuliah di Jurusan Geografi Universitas Gadjah Mada. Tahun ini, ia terpilih sebagai runner-up Wirausahawan Muda Mandiri 2007. Sejak masuk kampus UGM pada 1998, Saptuari telah mendambakan memiliki usaha sendiri. Sembari kuliah, beberapa usaha dijalaninya, mulai dari menjadi penjaga koperasi mahasiswa, penjual ayam kampung, penjual stiker, hingga sales dari agen  kartu Halo Telkomsel. Lalu, pada 2004, ketika bekerja sebagai event organizer di sebuah perusahaan di Yogyakarta, mantan staf marketing Radio Swaragama FM ini terperanjat melihat antusiasme penonton berebut merchandise berlogo atau bergambar para selebriti. “Heran. Kenapa orang-orang begitu bersemangat mendapatkan kaus, pin, atau apa saja milik artis,” katanya. “Padahal, mereka bisa membuat merchandise apa saja sesuai dengan kemauannya.” Bermula dari rasa heran itu, pada 2005 Saptuari mengambil langkah berani mendirikan Kedai Digital. Perusahaan itu bertujuan memproduksi barang-barang cendera mata (seperti mug, t-shirt, pin, gantungan kunci, mouse pad, foto dan poster keramik, serta banner) dengan hiasan hasil print digital. Waktu itu, ia bermodalkan uang sebanyak Rp28 juta; hasil dari tabungan, menjual motor, dan menggadaikan rumah keluarga.

Butuh waktu enam bulan bagi lelaki kelahiran Yogyakarta itu untuk memulai kegiatan Kedai Digital. Terlebih dahulu, ia mesti mencari mesin digital printing. Ia mendapatkannya (buatan China) di Bandung. Ia juga harus mencari tahu sumber-sumber bahan baku. Kemudian, ia harus mempersiapkan tempat usaha, menyusun konsep produk, dan merekrut para staf. Semuanya dilakukan sendirian. Bisnisnya berjalan pelan tapi pasti. Ketika usahanya mulai stabil, Saptuari memberanikan diri merekrut desainer dari kampus-kampus seni yang memang tersedia cukup banyak di Yogyakarta. Untuk tenaga marketing, digunakan para mahasiswa dari perguruan tinggi lain yang juga tersebar di kota itu.

Target pasar Kedai Digital adalah para mahasiswa. Karenanya, menurut Saptuari, perusahaannya tak boleh main-main soal kualitas. Karena itu, ia mesti menggunakan desainer yang memiliki latar belakang pendidikan formal. Pada tahun pertama, Kedai Digital telah berhasil meraih penjualan sebesar Rp400 juta. Tahun berikutnya, perolehan bisnis melesat menjadi Rp900 juta. Seiring dengan pertambahan outlet, revenue pada 2007 menembus angka Rp1,5 miliar. Hingga akhir tahun silam, Kedai Digital telah memiliki delapan gerai di Yogyakarta. Salah satunya adalah Kedai Supply yang menyediakan bahan baku untuk kebutuhan produksi di seluruh outlet lainnya. Sementara itu, gerai Kedai Printing dikhususkan melayani pesanan produk-produk advertising seperti banner. Di luar Yogyakarta, Saptuari telah memiliki lima outlet lain (di Kebumen, Semarang, Tuban, Pekanbaru, dan Solo) melalui sistem waralaba. Melihat hasil dari usaha Mas Saptu yang akhirny sukses ternyata beliau memilki prinsip ketika dia mencoba berwirausaha di kala mahasiswa yaitu managemen waktu.  Waktu kuliah itu kan efektivnya hanya 6 jam, padahal kita memiliki waktu 24 jam, lalu sisa waktu itu apa digunakan untuk apa? Saptuari menjawab bahwa sisa waktu itu dapat kita gunakan untuk mencari pengalaman sebanyak mungkin, dengan bekerja dan berorganisasi serta berani menunda kesenangan, karena dengan pengalaman itu

kita dapat terlatih dan tentunya setelah selesai kuliah pun kita lebih berpengalaman dalam dunia bisnis dan networking daripada mahasiswa lain yang hanya study oriented. Jadi jangan sia-siakan masa mudamu, bekerjalah danberkaryalah untuk masa depan bangsamu.

Pembicara yang kedua adalah mas Ridwan, melalui ide inovatifnya terhadap buah sukun, Dia meraih penghargaan sebagai wirausaha muda pemula. Ide inovatif itu muncul ketika dia melihat di Yogyakarta ini, khususnya di daerah pedesaan terdapatbanyak pohon sukun, yang buahnya jarang dimanfaatkan. Dia memutar otak bagaimana caranya agar buah sukun ini bernilai ekonomis tinggi. Berbekal ilmu gizi yang didapatkan di fakultas kedokteran, akhirnya dia memperoleh ide untuk mengolah sukun ini menjadi kue ( bakery ). Dia memilih ide ini karena dia tau bahwa banyak orang yang suka makan roti/kue, baik itu dari usia anak-anak hingga lansia, yang dapat digunakan sebagai bekal ketika bepergian.  Disamping itu roti/ kue ini adalah makanan yang menjadi kebutuhan primer manusia selama masa hidupnya dan harus terpenuhi setiap harinya, sebagai pengganti nasi. Berlatar belakang sifat manusia yang cepat bosan dan suka mencoba-coba hal-hal baru, maka sukri ( Sukun Bakery) menampilkan produknya yang bervariasi. Rasa sukri ini tidak kalah dengan kue yang berbahan dasar gandum. Melalui sukri ini diharapkan dapat menekan impor gandum, dapat memanfaatkan potensi daerah dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Usaha sukri yang dilakukan mas Ridwan ini tidak mudah namun juga tidak sulit, dia mengatakan bahwa dalam berwirausaha kita harus melakukan 4 kerja yaitu yang pertama kerja keras, dalam hadist juga disebutkan bahwa siapa yang bersungguh-sungguh dia pasti berhasil ( man jadda wa jada). Yang kedua kerja cerdas, dengan ilmu yang kita miliki kita dapat menganalisis permintaan pasar dan menghasilkan produk yang lebih kreatif dan inovatif. Kita juga dapat mencari networking atau SDM ( sumber daya manusia) untuk bekerja sama dalam usaha kita. Ketiga kerja ikhlas, berhubungan dengantingkat spiritual yang dimiliki tiap orang, dimana kita harus ikhlas dalam melakukan suatu tindakan agar ketika gagal kita mampu berpikir positive bahwa kegagalan itu adalah sukses yang tertunda, sehingga kita dapat bangkit lagi. Yang terakhir adalah kerja Tuntas. Dalam berwirausaha kita harus memiliki tujuan yang jelas mau dibawa kemana usaha kita ini, sehingga kita dapat mengidentifikasi target-target apa yang harus dicapai.

Siapa sih yang tidak kenal simply fresh laundry? Apalagi kalangan mahasiswa yang malas atau tidak punya waktu untuk mencuci dan menyetrika pasti mengenal laundry ini. Melalui perjalanan usaha yang dimulai dari usaha distro pada tahun 2004, namun belum berhasil, kemudian di tahun 2005 mencoba bisnis jual beli Hp, dan selanjutnya di tahun 2006 dibukalah laundry simply fresh ini. Awalnya mas Agung mendapat banyak complain dari pelanggannya, salah satunya seorang turis yang marah karena bajunya kelunturan, ternyata setelah ditelisik salah satu karyawannya memasukkan batik ke dalam mesin cuci bersama dengan baju yang lainnya. Karyawannya itu berfikir pasti karena pemiliknya adalah turis pasti bajunya pun mahal dan tidak luntur, namun malangnya ternyata tidak sesuai dugaan. Dan akhirnya Mas Agung harus mengganti sejumlah uang. Dengan pengalaman seperti itu mas Agung tidak berputus asa, beliau terus berusaha mencari sistem yang tepat untuk laundrynya ini. Di tahun 2007 mas agung diuji imannya, apakah dia memilih untuk bekerja di Bank Indonesia yang gajinya pasti besar dan PNS pula, atau melanjutkan bisnis laundrinya yang belum pasti ke depannya seperti apa. Akhirnya karena niatan yang kuat untuk menjadi pengusaha, beliau akhirnya memilih melanjutkan bisnis laundry ini. Berbekal rumus sukses yaitu YAKIN ( impian, ibadah, iman, ikhlas) X ACTION( ikhtiar, bertindak, bekerja, sedekah) = SUKSES, beliau akhirnya bisa membuat simply fresh laundry menjadi usaha waralabayang tersebar dari sabang sampai merauke dan dengan penghasilan hingga beratus-ratus juta tiap bulannya, subhannallah. Kata kata beliau yang sangat memberikan inspirasi adalah “ Dengan banyak memberi pasti banyak menerima”

Acara hari kedua adalah training bisnis online. Sebelumnya tidak menduga sama sekali kalo pengisinya adalah mahasiswa fakultas kedokteran, khususnya pendidikan dokter yaitu mas Fadly Wilihandarwo. Mas fadly melihat sisi lain dari internet yaitu dari internet kita bisa berkreasi dan mendapatkan uang, namun kebanyakan orang hanya menggunakan untuk mencari materi, informasi dan jejaring social. Dalam training ini dijelaskan cara-cara berbisnis melalui internet. Dimulai dari memiliki blog pribadi atau domain, kemudian kartu kredit untuk mencairkan uang yang kita dapatkan dan yang paling awal adalah ide/ tema yang akan kita jadikan market di internet. Kita juga dapat menjadi distributor kedua dari produk yang dijual oleh perusahaan tertentu dengan kata lain affiliate. Dipaparkan dengan jelas juga link-link apa yang dapat kita gunakan untuk menghasilkan uang. Bagi yang suka menulis dapat menjual artkelnya, bagi yang suka mendesain dapat menjual desain webnya. Asalkan kita rajin berusaha dan mau berkreasi untuk mencari uang di internet itu tidaklah sukar.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *