Better Primary Health Care System

ANTIBIOTICS 7 (AB7), FK UB, Malang, Jumat-Senin, 7-10 Oktober 2011

MATERI 3 (sabtu, 8 Oktober 2011)

Better Primary Health Care System

Dalam materi ke-3 ini ada 2 pembicara, satu dari Indonesia dan yang satu dari Malaysia. Di sini panitia berusaha untuk membandingkan antara kondisi pelayanan kesehatan di Indonesia dengan di Malaysia. Berikut sedikit ringkasan materi pertama:

Materi pertama dibawakan oleh dr. Ario, untuk CV silakan minta pada Ukhti Yassi alias Eci, OK!

Materi ini membahas tentang system pelayanan kesehatan di Indonesia, yang mana tidak akan lepas dari system perujukannya sendiri yang menjadi penghubung antara pelayanan kesehatan primer dengan pelayanan kesehatan di tingkat-tingkat selanjutnya. Ada beberapa masalah yang menyebabkan Indonesia menjadi dipandang “special”, diantaranya adalah

  1. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar dengan penduduk lebih dari 230 juta jiwa,
  2. Ada banyak keterbatasan; dalam hal ekonomi, geografi, pendidikan dsb,
  3. Sampai sekarang system pelayanan kesehatan di Indonesia belum tertata dengan baik,
  4. Evaluasi secara sistematis belum pernah dilakukan
  5. Medical Record (MR) tidak dapat diandalkan
  6. Tidak adanya program kesehatan yang menjadi prioritas di Indonesia. Dsb

Factor-faktor inilah yang menjadikan terhambatnya peningkatan kualitas system perujukkan dalam system pelayanan kesehatan di Indonesia. Ditambahkan factor lain yang menjadi masalah utama dalam persebaran palayanan kesehatan di Indonesia, diantaranya adalah kurangnya kapasitas negara dalam pembiayaan, kesigapan antardaerah dalam suatu negara maupun antarnegara dalam mengadakan pelayanan kesehatan, adanya pergeseran pola penyakit, tertundanya implementasi hasil penemuan ke dalam dunia praktek klinis dsb. Bagaimana sebuah negara bisa maju tanpa adanya system pelayanan kesehatan yang maju terlebih dahuliu? Padahal system pelayanan kesehatan diibaratkan sebagai kekuatan suatu negara, sedangkan karakter suatu negara adalah semua selain bidang kesehatan-health system in a vehicle which bring us to the future-

Lantas bagaimana dengan system kesehatan yang ada di Indonesia sampai saat ini? criteria yang harus dipenuhi dalam system pelayanan kesehatan yang baik diantaranya harus:

  1. berkualitas tinggi (high quality)
  2.  terjangkau (accessible)
  3.  terbeli (affordable)
  4.  dapat diterima (acceptable)

ironis sekali ketika pada bulan Juli 1997, Business Week menyatakan bahwa: The quality of hospital and health system in Asia has varied widely, from generally good in Singapore to poor or even dangerous in Indonesia. Kualitas rumah sakit dan system kesehatan di Asia sangatah bervariasi, mulai dari yang begus kualitasnya di Singapura dan buruk bahkan berbahaya di Indonesia.

Tidak bagusnya pelayanan kesehatan akan secara otomatis berdampak pada tidak seimbangnya biaya yang dikeluarkan dan hasil yang di dapatkan, sering terjadi kegagalan yang kemudian akan dipermasalahkan di meja hijau dampaknya institusi kesehatan mendapatkan imej buruk di mata masyarakat, surat izin ditarik dan kehilangan akreditasi lalu kehilangan kekuatan untuk berkompetisi, intinya akan berdampak sistemik.

Lalu, mulai dari mana kita sebaiknya untuk memperbaikinya? Dari stukturnya?atau dari strateginya?. System kesehatan yang ibarat mobil yang mengangkut seluruh “karakter bangsa” menuju masa depan, kini mogok! Apa yang sebaiknya dilakukan?1. memperbaiki mobil?atau 2. Membuka pasar:mengundang mobil asing masuk ke rumah kita?

Ibaratkan saja dengan gambar di bawah ini, menurut Anda, Indonesia berada di fase yang mana berdasarkan paparan di atas?yang merah bukan?jangankan berkualitas, jalan saja belum!

 

Siapa sajakah yang harus berperan dalam memperbaiki system kesehatan di Indonesia ini?ada tiga pemain utama yang bertanggung jawab, yaitu dari sector privat, NGO dan pemerintan (sebagai penyedia sekaligus pengatur).

Jika tidak segera diperbaiki, maka yang terjadi adalah akan terjadi kompensasi untuk mengangkatnya menjadi berkualitas (hijau)

 

 

Tentu saja kita harus mencegah hal itu terjadi, kalau terjadi maka hal buruk yang dikhawatirkan adalah akan menjadi neoimperealisme di dunia kesehatan, padahal kesehatan tercakup dalam hak hidup yang merupakan bagian dari Hak Asasi Manusia. Nah caranya bagaimana? Pertama, kita harus menentukan nilai dan visià mencapai derajat kesehatan Bangsa Indonesia yang setinggi-tingginya dengan biaya serendah-rendahnya, lalu menggunakan Evidence Based saat menentukan keputusan (mapping), harus ada deal anata liberal dan nation state, kemudian mengoptimalkan sumber daya, yang terakhir adalah dengan memperbaiki system perujukan, karena tidak akan berarti efektif kalau hanya meningkatkan kualitas antartingkat pelayanan kesehatan tanpa dibarengi dengan “jembatan” yang bagus.

Masing-masing tingkat pelayanan kesehatan, mulai dari pelayanan primer sampai tertier, harus ditingkatkan kualitasnya semaksimal dan seoptimal mungkin, dalam artian fungsi masing-masing tingkat pelayanan kesehatan harus sesuai standard atau bahkan lebih baik daripada standard.

 

 

Yang menjadi konsern pertama adalah terwujudnya “harmonisasi” antartingkat pelayanan kesehatan.

Selanjutnya, masuk ke tingkat global, apa yang terjadi bila tidak segera diperbaiki system kesehatan di Indonesia ini?sebelumnya kita lihat dulu trend pelayanan kesehatan di Indonesia, khususnya, yang lama kelamaan mirip seperti perbisnisan.

 

Di dalam negeri saja sudah seperti itu persaingannya, kalau tidak segera memperbaiki diri maka akan tergilas oleh pelayanan kesehatan dari institusi lain. Namun sadarkah akan hal yang lebih besar?

Lihatlah gambar berikut ini:

 

 

Padahal dalam hal teknologi, perkembangan di Indonesia dengan negara maju lainnya adalah sebagai berikut:

 

Dibandingkan dengan negara ASEAN?

 

 

Pada tahun 1997, Pak Mentri Dorodjatun K. mengatakan bahwa:” Di saat globalisasi: Insinyur, dokter, manager, accounting dll (kelas menengah ) akan kehilangan pekerjaan bila tidak mau merubah diri (standard global) !“

Siapa yang bertanggung jawab untuk berubah?sedangkan sepertinya pemerintah kelihatannya masih dalam kondisi lalai.

 

Surat Ar Ra’du (13) ayat 11:

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu

ANTIBIOTICS 7 (AB7), FK UB, Malang, Jumat-Senin, 7-10 Oktober 2011

MATERI 3 (sabtu, 8 Oktober 2011)

Better Primary Health Care System

Dalam materi ke-3 ini ada 2 pembicara, satu dari Indonesia dan yang satu dari Malaysia. Di sini panitia berusaha untuk membandingkan antara kondisi pelayanan kesehatan di Indonesia dengan di Malaysia. Berikut sedikit ringkasan materi pertama:

Materi pertama dibawakan oleh dr. Ario, untuk CV silakan minta pada Ukhti Yassi alias Eci, OK!

Materi ini membahas tentang system pelayanan kesehatan di Indonesia, yang mana tidak akan lepas dari system perujukannya sendiri yang menjadi penghubung antara pelayanan kesehatan primer dengan pelayanan kesehatan di tingkat-tingkat selanjutnya. Ada beberapa masalah yang menyebabkan Indonesia menjadi dipandang “special”, diantaranya adalah

  1. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar dengan penduduk lebih dari 230 juta jiwa,
  2. Ada banyak keterbatasan; dalam hal ekonomi, geografi, pendidikan dsb,
  3. Sampai sekarang system pelayanan kesehatan di Indonesia belum tertata dengan baik,
  4. Evaluasi secara sistematis belum pernah dilakukan
  5. Medical Record (MR) tidak dapat diandalkan
  6. Tidak adanya program kesehatan yang menjadi prioritas di Indonesia. Dsb

Factor-faktor inilah yang menjadikan terhambatnya peningkatan kualitas system perujukkan dalam system pelayanan kesehatan di Indonesia. Ditambahkan factor lain yang menjadi masalah utama dalam persebaran palayanan kesehatan di Indonesia, diantaranya adalah kurangnya kapasitas negara dalam pembiayaan, kesigapan antardaerah dalam suatu negara maupun antarnegara dalam mengadakan pelayanan kesehatan, adanya pergeseran pola penyakit, tertundanya implementasi hasil penemuan ke dalam dunia praktek klinis dsb. Bagaimana sebuah negara bisa maju tanpa adanya system pelayanan kesehatan yang maju terlebih dahuliu? Padahal system pelayanan kesehatan diibaratkan sebagai kekuatan suatu negara, sedangkan karakter suatu negara adalah semua selain bidang kesehatan-health system in a vehicle which bring us to the future-

Lantas bagaimana dengan system kesehatan yang ada di Indonesia sampai saat ini? criteria yang harus dipenuhi dalam system pelayanan kesehatan yang baik diantaranya harus:

  1. berkualitas tinggi (high quality)
  2.  terjangkau (accessible)
  3.  terbeli (affordable)
  4.  dapat diterima (acceptable)

ironis sekali ketika pada bulan Juli 1997, Business Week menyatakan bahwa: The quality of hospital and health system in Asia has varied widely, from generally good in Singapore to poor or even dangerous in Indonesia. Kualitas rumah sakit dan system kesehatan di Asia sangatah bervariasi, mulai dari yang begus kualitasnya di Singapura dan buruk bahkan berbahaya di Indonesia.

Tidak bagusnya pelayanan kesehatan akan secara otomatis berdampak pada tidak seimbangnya biaya yang dikeluarkan dan hasil yang di dapatkan, sering terjadi kegagalan yang kemudian akan dipermasalahkan di meja hijau dampaknya institusi kesehatan mendapatkan imej buruk di mata masyarakat, surat izin ditarik dan kehilangan akreditasi lalu kehilangan kekuatan untuk berkompetisi, intinya akan berdampak sistemik.

Lalu, mulai dari mana kita sebaiknya untuk memperbaikinya? Dari stukturnya?atau dari strateginya?. System kesehatan yang ibarat mobil yang mengangkut seluruh “karakter bangsa” menuju masa depan, kini mogok! Apa yang sebaiknya dilakukan?1. memperbaiki mobil?atau 2. Membuka pasar:mengundang mobil asing masuk ke rumah kita?

Ibaratkan saja dengan gambar di bawah ini, menurut Anda, Indonesia berada di fase yang mana berdasarkan paparan di atas?yang merah bukan?jangankan berkualitas, jalan saja belum!

 

Siapa sajakah yang harus berperan dalam memperbaiki system kesehatan di Indonesia ini?ada tiga pemain utama yang bertanggung jawab, yaitu dari sector privat, NGO dan pemerintan (sebagai penyedia sekaligus pengatur).

Jika tidak segera diperbaiki, maka yang terjadi adalah akan terjadi kompensasi untuk mengangkatnya menjadi berkualitas (hijau)

 

 

Tentu saja kita harus mencegah hal itu terjadi, kalau terjadi maka hal buruk yang dikhawatirkan adalah akan menjadi neoimperealisme di dunia kesehatan, padahal kesehatan tercakup dalam hak hidup yang merupakan bagian dari Hak Asasi Manusia. Nah caranya bagaimana? Pertama, kita harus menentukan nilai dan visià mencapai derajat kesehatan Bangsa Indonesia yang setinggi-tingginya dengan biaya serendah-rendahnya, lalu menggunakan Evidence Based saat menentukan keputusan (mapping), harus ada deal anata liberal dan nation state, kemudian mengoptimalkan sumber daya, yang terakhir adalah dengan memperbaiki system perujukan, karena tidak akan berarti efektif kalau hanya meningkatkan kualitas antartingkat pelayanan kesehatan tanpa dibarengi dengan “jembatan” yang bagus.

Masing-masing tingkat pelayanan kesehatan, mulai dari pelayanan primer sampai tertier, harus ditingkatkan kualitasnya semaksimal dan seoptimal mungkin, dalam artian fungsi masing-masing tingkat pelayanan kesehatan harus sesuai standard atau bahkan lebih baik daripada standard.

 

 

Yang menjadi konsern pertama adalah terwujudnya “harmonisasi” antartingkat pelayanan kesehatan.

Selanjutnya, masuk ke tingkat global, apa yang terjadi bila tidak segera diperbaiki system kesehatan di Indonesia ini?sebelumnya kita lihat dulu trend pelayanan kesehatan di Indonesia, khususnya, yang lama kelamaan mirip seperti perbisnisan.

 

Di dalam negeri saja sudah seperti itu persaingannya, kalau tidak segera memperbaiki diri maka akan tergilas oleh pelayanan kesehatan dari institusi lain. Namun sadarkah akan hal yang lebih besar?

Lihatlah gambar berikut ini:

 

 

Padahal dalam hal teknologi, perkembangan di Indonesia dengan negara maju lainnya adalah sebagai berikut:

 

Dibandingkan dengan negara ASEAN?

 

 

Pada tahun 1997, Pak Mentri Dorodjatun K. mengatakan bahwa:” Di saat globalisasi: Insinyur, dokter, manager, accounting dll (kelas menengah ) akan kehilangan pekerjaan bila tidak mau merubah diri (standard global) !“

Siapa yang bertanggung jawab untuk berubah?sedangkan sepertinya pemerintah kelihatannya masih dalam kondisi lalai.

 

Surat Ar Ra’du (13) ayat 11:

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

 

kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *